Setengah tak sadarkan diri,aku membuka mata yang sangat terasa berat ini.Seperti ada beban beribu ton yang jatuh di kepalaku.Sangat berat ku rasakan.Bahkan untuk sekedar menolehkan kepalaku untuk mendengar suara yang Sayup-sayup terdengar dari sebelahku..suara seorang perempuan, memanggil sebuah nama..

“ Lena,lena,..”

Siapa yang dia panggil ? aku kah ?siapa lena ?

“ Lena,lena,akhirnya kau sadar juga..”

Di mana aku ? Siapa Lena ?Siapa aku ?Mengapa aku bisa berada disini ?

“ Lena,kami semua mencemaskanmu ..”

“ Syukurlah,akhirnya kami semua bisa kembali melihatmu sadar ..”

Aku  tak mengerti,mengapa banyak orang berada di sekelilingku.Aku pun tak peduli pada Seorang perempuan yang tadi memanggil-manggilku dengan nama Lena,terus menciumi keningku dan mengusap tanganku.Sungguh,aku tak mengerti.Aku seperti berada dalam alam mimpi.Tapi kemudian,Mata dan kepala yang masih sangat terasa berat,selang oksigen yang menempel di hidungku,dan sebuah gantungan infus yang mengalir pada selang jarum di tanganku..menandai satu hal,sepertinya aku sedang tidak mimpi,Ini alam nyata,aku berada di sebuah rumah sakit.Tergeletak tak berdaya.

“ Lena..Lena..Lena.. “

Hanya itu nama yang ku dengar,sebelum akhirnya mata ini kembali terpejam..

 

****

 

September 2009,Purnama.

 

Senangnya hari ini,akhirnya,aku bisa menyelasaikan tugas kuliahku dengan sukses !Presentasi materi tentang ‘Psikologi komunikasi ‘ yang menyita hampir seminggu waktuku untuk menyiapkannya ,berlalu sudah.Tak peduli aku pada tatapan aneh para dosen yang melihat wacana baru yang kusuguhkan itu.Observasi gila.Mungkin itu yang ada di benak mereka.Tak apalah,Toh bukan penghargaan deskriptif berupa deretan huruf-huruf tunggal yang aku harap terima.A kah,atau B kah,atau C kah,bahkan D .Tak peduli aku.Kepuasan hati,kejujuran batin yang menyentuh pada objek observasi,yang di poles dengan sedikit terori lama,bagiku,itu cukup untuk mewakili tugas kuliahku saat ini.Karena pada nyatanya,hampir  aku tak percaya pada teori-teori basi psikologi itu yang seringkali tak sesuai dengan kenyataan.

Selain alas an itu,adalagi alasan yang membuatku tak ingin berlama-lama berkutat dengan tugas kuliah.Malam ini purnama.Dan aku tak mau kehilangan malam purnamaku begitu saja.Jika saja aku tak menyelesaikan makalah itu pada hari ini,aku tak akan bisa puas menjalankan rutinitas bulanan itu.

Purnama , Oh Purnama..

Entah apa yang membuatku begitu terpaut padanya.Moment yang tak kan pernah satu kalipun aku lewatkan,selama hampir 3 Tahun belakangan ini.Di mana-pun tempat aku berada.Tak pernah lelah aku menunggu bulan yang selalu sempurna memancarkan sinarnya.Karena pada saat itu,pada saat purnama terjadi,aku seperti terbawa dan terhipnotis pada keindahan dan keelokannya.Tidak tidak,bukan hanya pada keelokannya,tapi pada bisunya ia,yang  hingga detik ini ,tak jua ku mengerti.Tak pernah bosan aku memandangnya,semalaman suntuk.Hanya untuk menikmati temaram purnama itu.

Maka malam ini,sesuai rencanya yang sudah ku susun matang.Aku akan melihat purnama itu di pelataran tinggi pada dataran rendah di belakang kampusku.Sekilas,tempatnya memang terlihat tak menarik.Hanya hamparan luas taman dan pepohonan.Di temani sebuah danau buatan berdiameter  500 m dengan jembatan lawasnya yang menjulang,memang hanya sebuah pemandangan klasik pada siang hari.Namun jika purnama menjelang,tak ada yang bisa saingi keindahan pemandangannya.Di tambah lagi dengan view hiruk pikuk kota pada malam hari,maka Bagiku,terlalu eksotik untuk di lewatkan begitu saja.Sunyi yang ku cari pada kebisingan kota yang setiap hari ku hadapi,seperti tak punya pilihan lain,bagiku,ini tempat yang cukup sempurna.

Malam itu,seperti biasa,setelah sore selesai dengan aktifitas padat di kuliah,aku bergegas kembali ke rumah,merapihkan buku-buku tebal dan diktat,membersihkan dengan pakaian sedrerhana yang selalu ku pakai.Celana jeans,kaos putih berlurik biru pendek,sweater  abu-abu berkupluk,Apple mungil putih,Nokia 5230 dan sepatu kets putih kesayanganku.

“ Mah,Lena pergi dulu ya..malam ini lena gak pulang..”

“ Mau kemana kamu , Lena ? baru juga datang sore,sekarang udah mau pergi lagi ,kamu hobby banget sih ninggalin mamah pergi terus ? “

“ Yah..mamah,masa mamah lupa,coba inget-inget,tanggal berapa sekarang ? 10 September Mah,alias malam 15 Syawwal ,itu berarti,malam ini purnama..Mamah tahu kan,Lena gak mungkin melewatkan purnama ? “

Ku coba merayu mamah sambil menyium tangannya yang penuh kelembutan itu.Sebenarnya,tak tega aku meninggalkan mamah sendirian.Umurnya sudah mendekati kepala lima.Tak banyak yang bisa ia lakukan,apalagi Semenjak laki-laki yang paling di cintainya itu pergi meninggalkannya,3 tahun yang silam.Ya,tepat tiga tahun yang silam.Laki-laki itu pergi meninggalkan mamah dan tak kan pernah kembali.Waktu yang mungkin bagi mamah,belum cukup untuk menghilangkan memori terpentingnya itu.jangankan engkau mah,aku pun belum bisa melupakannya.

“ Ya mah ya..Lena janji,besok pagi,menjelang subuh,Lena bakal pulang,dan akan menyantap roti coklat buatan mamah sebelum pergi lagi ke kampus..Oke mah..Daag mamah sayang “

Ku tinggalkan juga mamah yang melepaskanku dengan gelengan kepala itu.Aku tahu,mamah tak kan bisa mencegahku pada setiap malam purnama.wanita itu sudah sangat tahu,apa yang akan aku lakukan jika purnama menjelang.

Bergegas ku starter Honda Beat biru hadiah dari Ayah ,tiga tahun yang lalu itu.Sebelum ku buka gerbang halaman rumah,sempat ku tolehkan pandangan pada jam tangan mungil yang berada di pergelangan tangan kiriku melewati  kaca helm.18.30.Matahari sudah terbenam dari beberapa menit yang lalu.Ayo Lena,waktu mu tak banyak,malam akan kian menjelang.

Sesampainya di pelataran parkir kampus,seperti biasa,dengan langganan satpam yang dulu aku rayu habis-habisan untuk mengizinkan aku bermalam di kampus  setiap malam purnama itu,ku titipkan Honda beatku.Masih terlintas di memoriku,tiga sampai lima bulan awal pada rutinitas yang menurut orang agak aneh itu,Pak Tiyo,begitu nama panggilan yang akrab ku sematkan padanya,masih sangat berat untuk membiarkan aku bermalam di taman itu.Alasannya macam-macam,bahaya lah,peraturan kampus lah,nanti dia yang di marahin bos lah,sampai pada ancaman-ancaman tak berlogis.Tapi karena kegigihanku merayunya,yang tentunya ku sertai dengan intrik-intrik perempuan,akhirnya luluh juga beliau membiarkanku melakukan kebiasaan aneh itu.Bahkan pada tahun terakhir,beliau yang jutsru kerap kali mengingatkanku jika purnama akan menjelang.

Ahh..Purnama,selalu saja punya cerita yang menghiasinya..

Aku kemudian terduduk pada jarak tak jauh dari danau buatan berjembatan tersebut.Ku buka Apple putihku,ku buka Dokument privasiku – pada folder khusus berjudul PURNAMA.Tak sadar aku,sudah begitu banyak Word-Document yang tertulis disana,rapih sesuai dengan tanggal semenjak purnama tiga tahun silam.Jika aku tak salah menghitung,sudah ada hampir 35 notes per-purnama.

Ku buka lagi Word Document-New.

Sambil menanti tengah malam,perlahan,ku mulai tenggelam dengan catatanku..

 

Purnama , September 2009

Begitu banyak kata yang ingin aku sampaikan padamu,purnamaku.Sebulan ini penuh dengan gejolak yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata sederhana.Kau masih ingat,pada catatanku sebulan yang lalu,saat aku mulai mempertanyakan prinsip hidupku.Saat aku mulai mempertanyakan,untuk apa sebenarnya aku hidup,untuk apa aku berlelah-lelah mempelajari materi basi psikologi yang sudah aku kuasai,untuk apa sebenarnya aku mempertahankan semua itu ?Sampai saat ini,belum jua kunjung aku temukan jawabannya.Hanya saja,gelisah itu terus membayangiku.

Purnama,yang ku tahu dari semua kegelisahanku itu,semua bersumber dari kejadian tiga tahun silam yang sampai detik ini belum bisa aku lupakan.Ya,rasanya memang naïf,tentu 3 Tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyembuhkan sebuah luka.Bagi sebagian orang,3 tahun itu sudah waktu yang sangat cukup untuk sembuh dari sebuah trauma.Tapi entah mengapa,itu tidak  terjadi padaku.

Masih terbayang dengan jelas semua memori itu,siluet kejadian yang telah merenggut laki-laki tekasihku,laki-laki yang telah membuatku berada di dunia ini.3 tahun yang silam,tepat pada bulan Oktober 2006,ia meninggalkanku untuk selama-lamanya.Meninggalkanku dan meninggalkan wanita yang paling dicintainya.yaitu Mamahku.Kanker ganas yang baru terdeteksi pada bulan kedua munculnya tumor di kepalanya,yang kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya itu lah yang menyebabkan ia pergi.Awalnya,sosok yang penuh ketegasan tapi bijak itu,tak mau menanggapi rasa sakit yang kerap kali muncul di kepalanya.Pusing dan hampir tiap minggu tiba-tiba taksadarkan diri sebelum berangkat mengajar di kampusnya.Ayah adalah seorang Dosen dan guru besar  ilmu Psikologi di Universitas,tempat dimana aku kuliah sekarang.Aktifitasnya yang nota bene sering bergesekan dengan mahasiswa itu seringkali membuatnya tak menghiraukan sakit yang mulai menghampirinya itu.

Berkali-kali mamah sudah mengingatkan agar ayah memeriksakan ke Rumah sakit terdekat.Tapi ayah masih saja keras kepala,bersikukuh bahwa pusing yang dialaminya itu ,hanyalah sakit biasa,akibat terlalu lelah.Baru pada bulan ketiga,ketika frekuensi tak sadarkan dirinya meningkat,dari yang hanya seminggu sekali,mulai 3 hari sekali,Ia kemudian menyerah pada suruhan mamah untuk Chek-Up ke Rumah Sakit.

Purnama,masih terlintas di bayangan ku,saat itu,Saat ayah pulang ke Rumah dari di opnamenya ia selama tiga hari,dokter yang menangani ayah mengatakan,ayah mempunyai tumor di Kepalanya.Saat itu,Dokter itu hanya berkata,tumor di kepala ayahmu masih bisa di atasi dan diangkat melalui operasi.

Meski agak syok aku mendengar hasil dagnosa itu,aku masih menengangkan diriku,bahwa setelah operasi,ayah akan baik-baik saja.Ayah akan sembuh.Seminggu setelah melewati adiminstrasi Rumah sakit yang cukup rumit,dan di tambah keras kepalanya ayah yang masih juga ingin mengajar di Kampus,akhirnya,ayah melewati masa kritis itu.Ayah di Operasi.Pengangkatan Tumor di kepalanya berlalu dengan sukses.

Sebulan berlalu,TIga bulan berlalu,ayah yang tadinya keras kepala tidak ingin chek-up rutinan ke Rumah sakit,menyerah pada kekhawatiran mamah dan kelembutannya.ya,tiga bulan berlalu,Kecemasanku yang pada awalnya terobati,kembali muncul dengan diagnose baru dari dokter.Tumor di kepala ayah ternyata masih berakahr dan kembali menjalar ke tubuhnya yang lain.Saat ini,hampir menjalari seluruh bagian kepalanya.

Tiga bulan-lima bulan-Tujuh bulan-delapan bulan,dengan sabar ayah menjalani rutinan pengobatannya ke rumah sakit.Operasi bukan lagi solusi,Tapi penyinaran radiasi pada bagian yang terkena tumor,menjadi makanan mingguan ayah.tubuh Ayah yang dulu berisi dan tegap,perlahan mulai mengurus dan mengering.Rambutnya yang ikal dan hitam yang biasa tersisir klimis itu,perlahan mulai terkikis.Wajahnya menirus.

Purnama,tahukah kamu apa yang dikatakan ayah saat itu padaku ?

“ Lena,Ayah tak tahu,sampai kapan sakit ini akan menghampiri ayah.Tapi sepertinya ayah sadar,tak banyak yang bisa ayah lakukan untuk ibumu pada hari-hari kedepan.Ayah sadar,ayah tak punya banyak waktu “

Aku berusaha untuk pura-pura tidak tahu ,tak faham apa yang ayah maksudkan dalam perkataanya itu.tapi Yang terjadi saat itu adalah,air mataku terus mengalir saat ayah mengatakan itu.

Ayah tetaplah sabar menghadapi semua itu.Tak pernah ia mengeluh sedikitpun dalam menjalani perawatannya di Rumah sakit.Meski ku tahu dengan pasti,Ayah menahan rasa sakit itu sendiri.Mamah dan akupun,sudah tak asing dengan air mata yang kini,bertambah frekuensinya.Bersiap untuk apapun yang terjadi.

Sepuluh bulan berlalu,Dua belas bulan berlalu,Pengaruh chemotherapy yang ia jalani tiap minggu itu memberikan efek yang sangat drastic.Tubuh ayah makin kurus.Wajah tampan dan kukuhnya sudah terlihat sangat tirus,rambutnya tak lagi tumbuh,daginya yang dulu penuh mengisi,sudah tak terlihat,hanya tulang berbalutkan otot tipis yang menempel pada tubuhnya,berbicara pun suaranya melemah,ingatannya menurun,bicaranya mulai perlahan,dan lebih sering berbaring di rumah ketimbang menghbiskan waktunya di Kampus.

Kanker ayah mencapai stadium lanjut,kali ini sudah menjalar ke bagian paru-paru dan mendekati jantungnya.kecil harapan ia terselamatkan.Aku dan mamah sudah sangat faham,apa yang akan terjadi pada ayah,maka pada selang waktu itu,tak pernah ku sia-siakan waktu yang bisa kuewati bersamanya.Sebisa mungkin selepas sekolah,aku menemaninya di rumah,menghabiskan sore bersama di pelataran rumah.Meski tak banyak obrolan yang bisa tersampaikan dari mulutnya.

Lalu pada satu malam,aku terjaga,mendengar suara pintu kamar ayahku terbuka dengan keras.Mamah yang kulihat cekatan membopong ayah ke luar pintu rumah,membuatku segera faham.Sesuatu terjadi pada ayah.Kami bertiga tak banyak membuang waktu,segera ku starter Corolla putih dan meluncur ke Rumah Sakit.30 Menit.Ayah langsung masuk ruang UGD.Nafasnya sudah tak teratur.

Aku dan mamah yang menunggu di ruang tunggu,tak banyak bicara,hanya pelukan erat mamah yang ku rasakan,genggaman tangan yang mengencang,dan tetesan air mata yang meleleh dari pipinya,hangat ku rasakan menyentuh wajahku.

Ayah di Opname kembali selama 3 hari.Tapi bukan di kamar biasa seperti pasien-pasien yang lainnya.Ayah di Opname di ICU,dengan tingkat kesadaran yang sangat rendah.

Purnama,pada siapa aku mencurahkan semua ini ? Berharap pada sesuatu yang mustahil terjadi.Pada takdir yang ku tahu,tak pernah memihak pada siapapun.Pada siapa ?Bagiku,tak ada yang menyaingi sosok keras,namun bijak dan penuh kelembutan itu.Kehangatan yang ku raih darinya,didikannya,perhatiannya,dan segala motivasi nya.tak sadar aku kembali tergugu.

Hari ketiga ayah di ICU,pukul 23.30 WIB ,saat aku dan mamah sedang terjaga di ruang tunggu,dokter memanggil kami,dengan setengah tergesa.Aku dan mamah segera mengenakan baju khusus ICU,dan langsung menghampiri tempat di mana ayah terbaring tak berdaya.

“ Kondisinya kritis,banyak berdoa ya dik “ itu kalimlat yang hanya bisa disampaikan dokter pada kami.

Aku memegang erat tangan kanan ayah,mamah memegang wajah ayah yang sudah tak bisa melihat itu,seluruh jari tangan dan kakinya sudah terjepit dengan pendeteksi jantung.

“ ayah,ayah,” batinku lirih.

Tak peduli aku pada tindakan dokter yang terus berusaha memompa jantung ayah melalui tekanan di dada ayah,tak peduli aku pada tindakan suster yang terus berusaha mendeteksi detakan jantung di monitor dengan detikan di jarum tangan mereka,tak peduli aku pada semua itu..

Hanya lilrihan yang terus ku gumamkan..

“ ayah,ayah.ayah..”

10 menit berlalu.Tak ada reaksi.Sang Dokter yang bertugas malam itu,kemudian menghentikan tindakannya.Sambil melepaskan stetoskop di telinganya,dokter itu kemudian memegang bahu mamah yang sedang tersedu sedan.

“ Bu,maafkan kami,kami sudah berusaha semaksimal mungkin,suami ibu sudah tidak dapat tertolong lagi “

Setengah tak percaya,aku mendengar penyampaian dokter itu.

Ayah tak bernyawa ?

Ayah tak bernafas kembali ?

Ayah sudah tiada ?

Sayup kemudian ku dengar bunyi dari monitor,pendeteksi jantung itu,Tuuuttt..garis lurus.Ya, benar,ayah sudah tiada.Saat para suster itu mempersilahkan kami untuk keluar sebentar,dengan maksud membersihkan jasa ayah,aku terpekur dan tergugu,memegang bahu mamah yang ku rasa sangat lemah,Ku tatap jendela,dank u lihat,purnama menghiasi malam itu.

Ya.Ku lihat dirimu wahai purnama.

Aku melihat mu dengan jelas malam itu ,sangat-sangat jelas.Tapi mengapa engkau diam saja ? tak berduka kah kau dengan ayahku yang sudah tiada ?tak merasa bersalahkah engkau,karena temani ayahku tiada ? Di mana hatimu purnama ?

Semenjak saat itu,Aku bertekad tak kan pernah meninggalkan malam purnama.Karena meliihat purnama,aku seperti kembali tersihir pada keluhan yang tak pernah terjawab.aku seperti tertuntut untuk menemukan jawaban,mengapa ayahku tiada pada saat purnama ?

Semenjak saat itu pula,entah dari mana keinganan itu tersematkan,aku Magdalena Avianty,akan bertekad menyembuhkan semua luka yang tajam itu,pada tambatan seorang dokter.Ya ayah,ya purnama,jika aku tidak bisa menemukan jawaban itu pada apa-pun,akan aku temukan jawaban itu pada sosok dokter yang kelak akan menjadi pendamping hidupku.aku bertekad akan menemukannya.

Purnama,saksikan aku bertekad.

Malam itu,setelah catatan pendek yang ku tulis di Apple kesayanganku,aku kemudian tersentak pada ingatan yang ternyata masih membekas dalam di benakku.Sudah hampir tiga tahun,belum juga kunjung ku temukan petunjk dimana aku harus menemukan sosok penyembuh luka itu.Seorang dokter ? apa aku masih waras ?

Ku tatap purnama yang hampir sempurna itu,ku lirik casio kulit dongker di tanganku,23.00 WIB.Desahan angin yang menderu disertai suara bising nun jauh di perkotaan itu,semakin menambah kegelisahanku.ku pejamkan mata sesaat,sambil tengadah menghadapnya..

Purnama,sampai kapan luka ini akan sembuh ?

 

 

********

Desember 2009,Purnama

 

“ Tidak,tidak,tunggu dulu,Maksudmu,kau mahasiswa kedokteran?” tanyaku meyakinkan.

“ Ya,aku mahasiswa kedokteran “ jawabnya.

“ Kau tidak sedang bercanda,kan ? “

“ Tidak,aku sedang serius “

“ Tapi darimana aku bisa percaya jika melihat penampilanmu saat ini ,Jeans belel,kaos oblong dan topi kusam ? “ tanya ku lagi,dengan setengah menutup mulut.

“ Hey,Lena,memangnya apa yang kau harapkan dari penampilan seorang calon dokter ? diktat setumpuk,kacamata bertengger ,jas putih dan sebuah Honda Jazz ?“  serang dia.

“ Oke,oke,aku anggap kau jujur untuk kali ini “

Percakapan itu terhenti dengan sendirinya.Aku masih tak bisa percaya.Lelaki yang baru saja ku kenal selama hampir dua bulan ini adalah seorang dokter ? Bagaimana mungkin aku tidak bisa tahu ? Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya sejak awal ? Tindakannya yang reflex saat menemui seorang wanita yang jatuh pingsan di Mall Arkadia saat aku sedang makan siang bersama mamah . Tindakan spontanitasnya saat seorang teman kampus tenggelam karena kram di pantai saat liburan kampus kemarin , tindakannya yang reflex memberikan Es batu saat lidahku tergigit di toko buku .Oh..Oh..ya ya..aku luput dari semua itu,ku pikir dia hanyalah lelaki yang hanya berbekal keberanian dan sok tahu dengan tindakan-tindakan preventif saat melakukan itu semua..

Bodohnya aku,tak menyadari bahwa laki-laki itu adalah seorang dokter !

Lima menit kemudian,kami berpisah di persimpangan jalan halte kampus.Aku menuju tempat parkir kendaraan berhelm ,sedangkan dia menuju halte kampus.Tak tahu aku kemana dia akan bertolak.

Dalam perjalanan pulang,fikiranku masih tertuju padanya.Tak ku hiraukan motor yang berusaha menyalip Honda Beatku dari sebelah kanan.Ku kendarai beat-ku pada kecepatan sedang.Purnama,purnama,aku harus beritahu dia,AKu harus beritahu dia.Tak sabar rasanya aku menunggu purnama yang akan datang malam ini.ingin segera aku beritahu,bahwa aku telah menemukan seorang dokter.

Purnama kali ini terasa sedikit berbeda dengan purnama-purnama sebelumnya,karena pada kali ini,perasaan ku sedikit membuncah dan bergejolak.Mamah yang melihatku pulang dari kampus sedikit terheran-heran,melihat tingkahku yang agak grogi dan tersenyum simpul.

“ Lena,pa kabarmu sayang ? “ sambut mamah sambil mencium kedua pipiku.

“ Kabar Lena baik mah,Sangat baik “ jawabku sambil melepaskan sweater.

“ Gimana di kampus hari ini ? Ujian semester mu ? Berapa mata kuliah lagi selesai? “ Brondong mamah sambil menyodorkan segelas air hangat kepadaku.

“ Masih 3 lagi mah..,Lena pusing.Andai Lena mau,Lena bisa saja tidak menjiplak apa yang ada di diktat-diktat tebal itu.Sebenernya Lena lebih suka improvisasi teori-teori Psikologi yang lebih Down to Earth,yang lebih ngena di hati Lena,yang sesuai dengan logika Lena,Tapi sayang,para dosen-dosen itu seringnya gak Mau bemurah hati,membiarkan mahasiswanya berekplorasi ,jadilah,kalau Lena mau lulus cepet semester ini,Lena terpaksa bersabar sedikit dengan teori lama mereka . BT kan Mah.. “ jawabku ngasal..

Mamah yang mendengar jawabanku ,hanya bisa tersenyum tanpa memberikan respon yang berarti.

“ Yang penting,kamu kuasai ilmu itu,Jika benar adanya,dan sesuai dengan hati nurani kamu,jangan dibiarkan dan jangan ditolak.Terima ilmunya dan aplikasikan pada kehidupan keseharianmu.Lagipula,siapa juga yang dulu ngotot ingin masuk Jurusan Psikologi ? “

“ Hehe,Mamah bisa aja deh.”

“ Trus rencananya,kamu mau kemana malam ini ? Kalau mamah tidak salah ingat,mala mini purnama kan ,sayang ? “

“ Iya mah..Enaknya dimana yah ? Di Taman belakang Kampus,di Caffe Buku alexa Atau di loteng jendela atas rumah sambil nemenin Mamah ? “ tanyaku balik.

Terfikir juga olehku untuk Moon-Gazing di atas rumah.Sebab waktuku tak banyak untuk purnama kali ini.Ujian Semester masih sedikit membayangiku.

“ Di loteng rumah juga gak jelek kok,Len..Coba deh sekali-kali kamu lihat dari atas sana.Barangkali dapat suasana baru “

“ OKe deh,Mah..Usul mamah tercintaku ini boleh lah di Coba “ Seringaiku sambil masuk ke dalam kamar.

Pukul 20.30 WIB.Setelah makan malam dan sedikit membuka-buka dikat untuk ujian lusa,aku kembali ke kamar.Kali  ini tak perlu kostum istimewa.Hanya singlet berjaket tipis dan celana ¾ kesukaanku,ku sandang Apple putihku dan Naik keatas loteng rumah,melalui jendela kamarku.

Wahh…Malam yang indah,ternyata saran Mamah boleh juga.Tak kusangka,loteng rumahku yang berhadapan dengan rumah-rumah lainnya ini,mempunyai View yang cukup luas.Karena rumah tetangga yang berada di sampingku,berjarak sedikit jauh.Kira-kia 150 M.Dan kebetulan,rumah peninggalan almarhum Ayah ini bertingkat dua,jadilah loteng rumahku berada di tempat yang lebih tinggi dari loteng-loteng rumah yang lain.

Yah,tempat yang tidak buruk untuk sekedar Moon-Gazing.

Ayo Apple ku sayang,tak sabar rasanya aku ingin memenuhimu kembali.

3 detik kemudian,aku terlena bersama suara jangkrik malam dan tuts-tuts di Keyboardku.

 

Purnama,Desember 2009

Purnama,syukurlah kau muncul mala mini tanpa gerimis yang menemani.Akhir tahun biasanya mendung sepanjang hari.JIka tidak sore ia datang,maka pagi buta sekali ia akan turun.Ah,,Selalu saja aku ingin melihatmu sempurna.

Purnama,ada yang ingin aku sampaikan padamu.tapi janji,kau tak kan berkomentar apa-apa sebelum aku selesai menuliskannya.OKe ?

Hari ini,tanpa sengaja aku membuka identitasnya.kau masih ingat laki-laki yang ku temui secara tak sengaja di Café buku Alexa dua bulan silam?,Ya,saat aku sedang iseng mencari buku Novel Jane Austin kesukaanku di weekend kuliah.Aku berpapasan dengannya di meja Caffe,tempat khusus bagi para pembaca yang ingin menghabiskan waktunya di Caffe dan enggan untuk keluar.Entah apa yang membiusku untuk memperhartikan lelaki yang duduk di seberang meja itu.

Laki-laki itu berperawakan tinggi,rambut berbelah pinggir gaya pemuda klasik,berkacamata,dan berwajah kuning langsat.Entah apa buku yang sedang dibacanya,Tapi meihat ia begitu serius membaca buku itu,Ku taksir,ia seorang mahasiswa berumur .Tapi ada yang aneh dari penampilannya,ia tampak berinteletual tapi tidak dengan paikaiannya yang terkihat sangat-sangat sederhana.Celana biru jeans,Kaos obolong putih yang dilapisi kemeja bergaris kuning tua,dan sepatu sandal yang kutebak harganya tidak mahal.Bagiku,penampilannya agak  tidak lazim bagi pengunjung Caffe ini yang notabene adalah kalangan menengah keatas.

Mungkin Merasa di perhatikan oleh seseorang,ia menoleh ke arahku.Saat itu tak ada yang bisa aku lakukan selain pura-pura tidak tahu.Aku berdehem pelan,ingin menandakan bahwa aku sedang serius membaca.

Dua jam kemudian,tak terasa,Jane Austin membiusku dan  mengalihkanku dari fikiran tentang laki-laki tersebut.Tak sadar,ia pun sudah pergi entah kemana.Peduli apa aku ?Menjelang sore,saat aku bergegas ke lataran parkir motor,tak sengaja aku melihat laki-laki tersebut berjalan dengan seorang wanita yang tampak lebih muda darinya Menunggu di halte seberang Caffe buku.Oh ,ternyata laki-laki itu baru juga pulang.Sambil mengenakan helm,ku starter Honda beatku,dan pergi meninggalkan Caffe itu menuju ke rumah.

Pertemuan yang singkat dan tidak ku sangka ternyata berlanjut di kemudian hari.

Purnama,pada pertemuan kedua,aku sangat-sangat dikejutkan oleh kehadirannya yang tidak ku duga sama sekali.Saat aku sedang menunggu hujan reda di pelataran kampus,ia berdiri di sampingku,sambil memegang sebuah buku,masih dengan penampilan yang sama.Dengan setengah terkejut,aku melangkah menghindari dia.Mengapa dia berada disini?Apakah dia mahasiswa di kampusku ?Baru kali ini selama tiga tahun di Kampus,aku melihatnya.Angkatan berapa dia ? Fakultas apa dia ? Tapi apa benar dia juga mahasiswa ? Ketika aku sedang bertanya-tanya pada diriku sendiri,Lak-laki itu justru menghampiriku dengan tenang.Lagi-lagi,tak diduga,ia menyerahkan tangan kanannya,mengajak bersalaman.

“ Kenalkan,namaku Aditya Purnama,panggil saja Adit.kita pernah ketemu sebelumnya kan ,tempo hari di Caffe buku Alexa ? “

Lha,lha,ada apa ini?siapa dia berani-beraninya mengajak aku kenalan ?baru juga ketemu dua kali.Tak ku tanggapi ajakan salamannya,tapi ku jawab juga pertanyaanya.

“ Terima kasih,namaku Magdalena Avianty,semester 6,Psikologi “

“ Panggilannya ? “

“ Lena,cukup Lena “

“ Oke Lena,Sedang menuggu hujan reda,atau sedang menunggu seseorang ? “ tanyanya kemudian.

Berani sekali dia bertanya seperti itu.

“ Menunggu hujan “ jawabku.

“ Baik kalau gitu,saya pergi duluan “ pamitnya padaku.

Masih dengan keterjutanku,ku tanggapi juga,

“ Ya,silahkan “

Ia kemudian berlari dengan lincah di bawah rintikan hujan itu,dengan buku yang dibawanya,ia jadikan pelindung sementara.

Laki-laki yang aneh.Tapi kurekam juga namanya,Aditya Purnama.Tapi tunggu-tunggu,Aditya Purnama.Ku Eja sekali lagi.Nama belakangnya,Purnama.Ha,gak salah dengar ya aku ?Purnama,mana ada hari gini nama purnama ? Batinku geli.

Tak perlu waktu yang cukup lama,seperempat jam kemudian hujan mereda,dan aku bisa kembali pulang ke rumah.

Pertemuan ketiga,kali ini lebih mengejutkan dari yang sebelumnya.

Saat aku sedang asyik berdua-an denganmu pada bulan lalu di pelataran belakang kampus,tiba-tiba saja ia datang dan duduk disampingku.

Aku yang saat itu sedang tenggelam dengan catatanku,tiba-tiba saja terganggu dengan kehadiran seorang lelaki yang baru dua kali ku temui dank u ketahui Aditya sebagai namanya.Seumur-umur,tak pernah ada yang tahu kebiasaaanku ber Moon-Gazing ria saat purnama tiba selain mamah dan Pak Tiyo satpam kampusku.Bagaimana mungkin laki-laki itu tahu dan segera menghampiriku ? Belum hilang keterjutanku,ia sudah berbicara.

“ Maaf ya ganggu rutinitasmu,tapi aku juga sedang tertarik dengan purnama malam ini.Boleh aku bergabung ? “

TIdak ada alasan yang logis yang bisa membuatku menyingkirkan dia dari hadapanku saat itu.Mengatakan bahwa ini daerah kekuasaanku? Atau mengatakan,aku sedang tidak Mood untuk berbicara dengan satu orang pun saat ini ? atau malah berpamitan dan pergi dari hadapannya ? Ku jawab juga.

“ Jika menurutmu tempat ini layak untuk menikmati purnama,silahkan,aku tidak keberatan dengan kehadiranmu “

Ia melepaskan kacamatanya dan menoleh padaku,tersenyum.

“ Terima kasih,,,Lena ya,jika aku tidak salah ingat.namamu Lena kan ? “

Oh purnama,,Andai saja  cahayamu tidak setemaram itu,mungkin kau akan melihat ekspresi wajahku saat memandang senyumannya yang tak berkacamata itu.

“ Ya,tak apa “ balasku sambil mengalihakan pandangan.Ada sesuatu yang aneh berdesir di dalam hatiku,tiba-tiba saja.

Kami terdiam sejenak , dan ia memulai kembali percakapan.

“ apa yang kau kagumi dari sebuah Purnama,Lena ? Aku tak pernah melihat seorangpun mempunyai kebiasaan aneh sepertimu “

Pertanyaan Aneh.Lagipula bagaimana dia tahu aku mempunyai kebiasaan ini.Belakangan ku ketahui,ternyata ia akrab juga dengan pak Tiyo satpam kampus itu.

“ Temaramnya,bisunya,Eloknya,Putihnya,dan kehadirannya yang langka “

“ Hanya itu ? “

“ Ya,hanya itu “ Meski dalam batinku,menjawab,Tidak hanya itu,itu hanya dalih klasik.Tapi tak mungkin kan,aku ceritakan tragedy 3 tahun silam itu padanya ?

“ kalau bagimu ? Aku tak pernah melihatmu di sekitar kampus ini.Apalagi melihatmu menikmati Purnama di tempat yang sama “ Balasku dengan sedikit terheran.

“ Bagiku,Purnama itu menyimpan sejuta jawaban tentang cerita kehidupan yang tak pernah ku mengerti.Aku selalu ingin bertanya padanya,tentang kekerasan hidup,tentang ketidak adilan,tentang cinta dan benci,tentang kejujuran,tentang kebohongan,tentang segala hal yang selalu kupertanyakan “

Setengah tak percaya aku mendengarnya,alasan yang sangat filosofis,mendekatik alasanku.ia pun kemudian melanjutkan.

“ Bentuknya yang Elok saat sedang sempurna bulat,seakan ingin mengatakan pada manusia ; ‘Hey,Apa kau ingin tahu rahasia Langit ‘ ? Dan aku selalu tertantang untuk menuruti pertanyaan khayalanku itu “

“ Tapi kemudian cahaya temaramnya membuatku kembali terduduk sadar.Untuk mengetahui rahasia langit,kau tidak hanya butuh sebuah tanda Tanya,tapi juga tanda seru dan Koma,untuk mengakhiri pertanyaanmu yang tidak terjawab itu “

Oh..Oh,..Siapakah gerangan Aditya ini ? Hampir semua kata-katanya membuatku tak berkdeip memandang purnama itu.

“ Pada akhirnya,kau hanya bisa terpekur dengan tidak berdaya,menikmati semua keelokannya dan kebisuannya sekaligus.Ia Elok,cantik,sempurna,tapi sulit untuk diraih “

Itu kalimat terakhir tentang purnama yang ku dengar darinya.

Tak banyak ingin menanggapi,Kami pun kemudian tenggelam dalam diam untuk kembali menatap purnama itu.

Oh purnama,baru kali ini ada seseorang yang nyaris bisa membaca semua jalan fikaranku.Anehnya,ia seorang laki-laki dan baru bertemu beberapa kali denganku.

Begitulah akhirnya hubungan kami berjalan.Tak banyak yang ku ketahui tentang identitasnya.Karena setiap kali ku Tanya,ia lebih sering menghindar daripada ingin menjawabnya.Ia pun datang selalu dengan kejutan,kadang ketika aku keluar kelas di kampus,kadang di Halte parkir,kadang di Caffe buku,kadang saat aku sedang berkumpul bersama teman-temanku,dan moment-moment tak terduga lainnya.Aku yang merasa tidak keberatan dengan kehadirannya,sedikit demi sedikit mulai membuka hati.Tidak bisa tidak,kata-katanya yang sering membuatku terhenyak itu lah yang membuatku tidak bisa banyak menghindari darinya.

Mamah pun tahu,aku sedang dekat Adit.Satu kali sengaja ku perkenalkan dia dengan mamah di Mall Arkadia.Hanya satu yang belum ku tahu,apa yang membuatnya ia terus mendekatiku ?

Hanya itu purnama,hanya itu pertanyaanku kali ini.

Tapi perbincangan sederhana tadi sore di kampus sebelum aku pulang telah menyentak tekadku kembali.Ia seorang mahasiswa kedokteran,purnama.Adit,Adit,ia calon dokter.dan aku baru tahu sekarang.Aku dekat dengan seorang calon dokter.Mimpi apa aku semalam,purnama ?

Aku bukanlah seorang wanita yang cantik dengan penampilan necis seperti mahasiswi-mahasiswi lainnya.Tapi kata sebagian besar temanku,aku yang berrambut pendek gaya shaggy dan bertinggi 160 cm ini , cukup manis untuk dipandang.berat badan yang tidak terlalu berat dan tidak terlalu kurus,ditambah dengan gaya pakaianku yang cenderung agak tomboy,membuatku berfikir,apa yang laki-laki lihat dariku ? Akademik-ku pun tak sebagus teman-teman seangkatan yang lainnya.IP ku tiap semester juga tidak selalu diatas 3.

Purnama,apa kegelisahanku beralasan kali ini ?

Aku bertemu dengan seorang dokter.aku tak pernah jatuh cinta sebelumnya.Tak tahu apa rasanya.Tapi pertemuan tidak sengaja dengan sorang calon dokter ini yang membuatku tak jua kunjung habis berfikir dan tiba-tiba saja terus memikirkannya.

Purnama,maukah kau beritahukan rencana langit selanjutnya padaku ?

Ku hentikan catatanku yang ke 39 itu.Ku lirik jam mungil di Apple,00.45.Ku tatap kembali purnama di atasku,dengan desahan yang tak berhenti.

 

 

*********

 

 

Maret 2010 , Sehari jelang purnama.

 

Dingin yang menusuk tulang rusukku ini hampir tak terasa dengan keberadaanya di sampingku.Luluh sudah kebekuan hatiku.Aku jatuh cinta padanya.Tak ada kata lain yang bisa lukiskan perasaan-perasaaan yang hampir setengah tahun ini terus menggelayuti,selain kata cinta.Cinta,cinta dan cinta.

Sederhana saja,aku merasa kehilangan jika ia tidak ada disampingku dan aku merasa nyaman jika bersamanya.Identitasnya yang ku ketahui belakangan sebagai dokter,ternyarta ku sadari,tidak ada apa-apanya.aku lebih mengenalnya sebagai pengelana kehidupan daripada sebagai seorang calon dokter yang ku Kenal.Dan kepribadianyya itu lah yang ku kira,membuat aku jatuh cinta padanya, dan bukan statusnya sebagai seorang dokter.Jadi bagaimana ini purnama ?

“ Adit,bolehkah aku bertanya sesuatu padamu ? “ Aku berusaha membuka percakapan.

“ Sejak kapan kamu minta izin untuk bertanya pada ku ? “ Candanya.

“ Sejak aku merasa tak ada lagi batas di antara kita “ Seringaiku.

“Tanyalah,Len,segala hal yang ingin kau ketahui,selama aku bisa menjawabnya,akan aku jawab “

“  Dit, apakah kau pernah merasa kehilangan ? “

“ Pertanyaanmu aneh,mengapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu ?”

“ Tidak – tidak,aku hanya ingin tahu,apa kau pernah merasa kehilangan yang sangat,dan seakan kau tidak bisa menerima kehilangan itu  ? “

“ Lena,lena..Kau pasti sedang teringat sosok ayahmu itu ya ? “  tanggapannya justru ingin membaca fikiranku.

“ Ya ,Dit,sampai detik ini ,rasa kehilangan itu masih tajam menghujam di hatiku. Pertanyaanku tiap purnama menjelang,tidak juga bisa ia jawab.Kok jadi balik nanya,Ayo Lah beritahu aku,apakah kau pernah mengalami kehilangan ? “

“  Lena, sekarang aku Tanya dulu padamu,menurutmu apa itu arti kehilangan ? “

“ Dia pergi,hilang,dan tidak ada dihadapanku “ jawabku cepat.

“ Jadi itu menurutmu arti hilang.Dangkal banget arti hilang bagi seorang psikolog.Hehe..” Usil dia meremehkanku.

“ Lena,JIka itu arti hilang menurutmu,maka aku tidak pernah mengalami kehilangan.Karena bagiku ,hilang itu , dia pergi,tapi jiwa dan semangatnya selalu lekat dalam hati dan sanubari. Bagiku,hilang itu,dia pergi,sengaja atau tidak dia meninggalkan,tapi perginya masih menyisakan memori yang dalam,nilai yang terwariskan,dan kenangan yang tidak terlupakan.Nah,dari semua ingatan dan kenangan itulah aku tak pernah merasa kehilangan,dalam arti sesungguhnya.Tapi,secara kasat mata,ya,aku pun sama,pernah kehilangan,sama sepertimu “ jelas ia.

“ Jadi,kau juga pernah kehilangan ? “ tanyaku lagi.

“ Untuk kasat mata,ya,aku juga pernah kehilangan “

“ siapakah ia Dit,apakah dia orang yang sangat berarti bagimu ? “

“ Lena,berarti itu relative.Bagiku,awalnya,ia tak berarti,tapi aku baginya,mungkin saat berarti “ dia ngeles,batinku.

“ Ayolah,beritahu aku,siapa ? “

“ Cerita lama,Len,kau pasti tak akan senang mendengarnya “

“ Ayolah ,Dit,Tell me,tell me.. “ Desakku.

“ Oke,dengan satu syarat.Kau ikut aku besok malam , aku ingin memperlihatkanmu sesuatu.Di sana,akan ku beritahu cerita selengkapanya.Gimana ? Mau nggak ? “

“ Yahh…Adit,Besok kan jadwal Moon-Gazing ku.Kamu tahu itu kan..  ? “

“ ya terserah kamu,Kan kamu yang penasaran sama cerita aku.Aku bisanya besok malam,kebetulan lagi gak ada jam praktek.sekaligus,kamu mau Moon-Gazing sendirian apa aku temani ? “ Goda dia,gentian merayuku.

“ Huuh…kalah lagi,kalah lagi.Oke,besok malam,janji ya beritahu aku “

 

Percakapan malam itu terhenti disana.Seperti biasa,tidak ada kata perpisahan,tidak ada kata hangat yang terlontar,darinya maupun dariku.Selalu datar.Aku yang sama sekali tidak mungkin mengatakan perasaaan cintaku padanya duluan,hingga detik ini masih ingin merahasiakannya.Jadi,sikapku pun masih kuusahakan pada batas sewajarnya.Sikapnya yang juga hanya mendekatiku dengan kejutan-kejutannya itu,masih belum bisa ku artikan sebagai rasa yang sama.

Adit,bagiku,ia laki-laki sopan,baik hati,sederhana,cerdas,sedikit humoris dan juga,tampan.Ya,tidak bisa kupingkiri,andai saja pakaiannnya terlihat sedikit lebih mewah untuk ukuran statusnya,ku jamin,akan banyak wanita yang menaksirnya.Apalagi jika ia sedang  tersenyum dan tidak berkacamata.Oh Purnama,gejolak itu kembali mendatangiku.

Hanya ada beberapa hal  yang tidak ku ketahui tentangnya.Selain aktiitasnya yang lebih suka meladeni LSM-LSM kesehatan dibanding mengejar-ngejar praktikum ,mengejar pasien percobaan agar Co-Ass nya cepat selesai seperti teman-teman sefakultasnya,aku tidak banyak tahu tentang latar belakang keluarganya.Bayangkan,sudah hampir setengah tahun aku mengenalnya,tapi ia masih bisa dengan sangat rapih menyembunyikan sepenuhnya identitasnya padaku.laki-laki yang sedikit misterius.

Maka pada keesokan harinya setelah jam kuliah usai,,saat aku bertemu dengannya di halte kampus , aku menyodorkannya sebuah helm yang sengaja ku bawa untuknya.

“ Ini,pakailah,kita akan ke suatu tempat bukan ? “ ia melihatku aneh dengan setengah tertawa.

“ kok malah ketawa , ini ,ambil ,katanya mau pergi .Aku tak pernah melihatmu membawa kendaraan,jadi pakailah ini.Kita berangkat bareng,pake motorku “ Sorongku.

“ Lena,lena,belum juga kamu tahu kita mau kemana,udah nyorongin helm aja “ tanggapnya sambil menerima juga helm yang ku beri.

“ Oke, jadi,kemana kita malam ini ? “ tanyaku.aku jalan beriringan dengannya.

Sambil berjalan menuju lataran parikir,Ku buka tas selempangan kremku dan ku raih Nokia 5230ku.Ku kirim pesan singkat untuk mamah.

‘Mamah sayang,malam ini Lena Moon-Gazingan di luar yah..Lena gak balik dulu ke Rumah,karena ada janji dengan Adit.jelang subuh balik ke rumah.Daag mamah sayang,Sun kangen Lena..’

Kirim pesan buat mamah yah ? “ Tanya Adit.

“ iya,biasanya kan aku pulang dulu kalau balik kuliah “

“ Anak mamah banget ya kamu “

“ Yee,,masa baru tahu.Orang udah gak punya ayah,ya iyalah jadi anak mamah,masa anak kamu ? hehe “ candaku.

Sesampainya di depan motorku.Ia memnita kunci Beat-ku.

“ Lha,emangnya kamu bisa naik motor ? “ ejekku lagi,setengah bercanda.

“ Len,gak pernah naik motor bukannya gak bisa nyetir motorkan ? udah mana kuncinya,aku gak akan mungkin ngebiarin diriku sendiri di boncengin sama cewek “ sergah dia.

“ oke,oke,kamu nyetir “ balasku cepat.

Ku berikan kunci motorku,Ku kenakan sweater tipis berseleting kesayanganku,dank u pakai helm kacaku.Ia yang sudah menyalakan mesin motor,berkata padaku.

“ Ayo,Len,waktu kita gak banyak,Karena lokasinya agak jauh dari sini “

Ku naikkan juga kakiku di motorku,dan duduk dibelakangnya.Tiga menit kemudian,beatku sudah keluar dari lataran parkir dan menembus jalan raya kampus.Agak aneh kurasa.Ini pertama kalinya aku naik motorku sendiri,tapi merasa kikuk,karena selain yang biasanya aku nyetir sendiri,dan ini pertama kalinya,aku di boncengi oleh seorang lelaki,selain dari alamarhum ayahku.Ditambah lagi,perasaan cinta yang telah tumbuh di hati ini.Maka sore itu,ku rasakan,aku merasa sedikit grogi.

“ Dit,jangan kenceng-kenceng ya,kamu bawa gadis calon Psikolog Lho “

Tak banyak berkata,ia acungkan jarinya yang simbolkan kata Oke ,padaku.mengarah kebelakang.

Awalnya aku tak tahu dimana ia akan membawaku.Tapi setelah hampir 20 menit motor ini belum juga terlihat berhenti,dan menemukan tempat yang layak untuk di kunjungi,rasa penasaranku muncul juga.

“ Dit,tempatnya masih jauh nggak ? “ tak nyaman juga aku jika terus berlama-lama berada dalam boncengan laki-laki ini.Gejolak yang lagi-lagi tak dapat ku lukiskan.

“ Bentar lagi ,Len,tenang aja,15 menitan lagi ,kita sampai  “ sahutnya dari balik helm.

Lebih singkat daripada waktu yang diperkirakannya,adit Sudah menghentikan motor .

“ Kita sampai,Len “ katanya padaku.Ku lirik Casio dongkerku.17.15 WIB.

Aku yang duduk di belakangnya langsung menurunkan kakiku,sambil mencoppt helm yang berada di kepalaku,ku tolehkan pandanngaku pada lingkungan sekitar ku.Tempat apa ini ? di mana ini ?Aku hanya bisa melihat  gang untuk ukuran satu mobil.disampingnya terdapat beberapa pepohonan yang rindang dan rimbun.Aku tak bisa memastikan tempat dimana Adit membawaku sekarang ini.Belum sempat hilang rasa penasaranku,Adit yang sudah menghentikan motornya,kemudian melepaskan helmnya dan menuntun motorku.

“ Lho,Dit,kok motornya dituntun ? Bukannya kita udah sampai ? “ tanyaku lagi.

“ Ya,tempatnya masih 100 meter lagi,kita jalan aja yah “

Aku hanya bisa menurut saja ketika Adit mengatakan itu.Tak lama kemudian,aku dan Adit sampai pada sebuah rumah bercat putih yang …Waaw…Besar sekali menurut pandangan mataku. Sambil membuka gerbang pagar rumah itu,Adit mengajakku masuk.Halamannya yang menurut prediksiku seluas dua hektar yang dihiasi rumput hiasan buatan dan kolam kecil,membuatku seperti tersihir.Ini rumah atau Villa ?

“ Ayo,Lena “ ajak Adit.

“ Dit,kita gak salah masuk rumah orang kan ? “ tanyaku meyakinkan.

“ ya Nggak,Lah ,Len..” jawabnya cepat.

Adit yang memakirkan Beat-ku pada pelataran rumah,kembali mengajakku untuk masuk kedalam rumah itu.Di tekannya tombol Bel yang berada di depan rumah.Beberapa detik kemudian,keluarlah seorang wanita Tua yang ku taksir kisaran umurnya di kepala lima.

“ Eh,Den Adit,silahkan Masuk . Kok tumben pulangnya lebih awal,biasanya agak malam “ sambut wanita tua itu sambil menyilahkan Adit dan aku masuk ke dalam rumah.

“ Iya nih ,Bi,ada keperluan sebentar dengan teman,jadinya pulang lebih cepat “

Aku terheran-terheran.

“ Bi,Papah  ada di Rumah ? “ Tanya Adit sambil mempersilahkan aku duduk di Sofa krem berbulu di ruang tamu.

“ Ada,Den,Baru juga pulang setengah jam yang lalu sebelum Den Adit datang “ jawab wanita tua itu.

“ OKe bi,ini sekalian,tolong buatin minum buat teman Adit “

Aku yang lagi terbengong-bengong tak percaya langsung bertanya pada Adit,segera setelah wanita tua yang di panggil Adit Bibi itu masuk ke dalam rumah.

“ Dit,kamu ga lagi bercanda kan,Ini rumahmu ? “ Tanya ku dengan sedikit khwatir.

Adit tersenyum simpul,sambil ya…membuka kacamatanya.Oh..Oh..tidak tidak,tidak dengan tatapan itu.

“ iya Lena,tebakanmu benar sekali,Selamat datang,ini rumahku “ jawab Adit.

“ Dit,kamu serius ? “ aku masih belum percaya.

“ Iya Lena,memangnya kapan aku tak pernah tampak serius di hadapanmu.Dua Rius,ini rumahku “ jawab Adit.

“ Tunggu bentar ya,sambil nunggu Bibi bikin minum buat kamu,aku keatas dulu,ganti baju,sambil ngasih tahu papah,kalau ada kamu “ lanjut Adit tanpa memberikan aku kesempatan untuk kembali bertanya.

“ Dit,Dit,Dit…tunggu dulu,Hey,hey,Adit..”

Adit pergi tanpa menghiraukan panggilanku.Aku yang masih syok setengah mati tak juga bisa berkata apa-apa selain diam seribu bahasa.jadi ini siapa Adit sebenarnya.Jadi Adit anak orang kaya. Jadi Adit bukan laki-laki berbusana gembel yang biasanya ku kenal ? Jadi Adit,jadi Adit anak orang terpandang.Jadi,Adit? Jadi Adit ? Aku jadi kikuk sendiri,jika aku tahu Adit akan menngajakku ke rumahnya,setidaknya aku bisa berpakaian yang lebih sopan sedikit di banding dengan kostumku sekarang.Ku lirik lagi pakaianku dari atas.Potongan rambut pendekku yang setengah tak tersisir,jepitan kecil di sampingnya,Kaos pendek setengah longgar bercorak Kilat biru,Celana jeans,Kaos kaki putih,Tas selempangan seadannya,dan diktat yang tak cukup untuk ku masukkan di Tas..Oh..wanita apa aku ini ?

Agak lama aku terpekur pada kediamanku,setelah kira-kira seperempat jam kemudian,Adit memasuki ruang tamu tempat dimana aku sedang duduk menunggu.Sore menjelang,sebentar lagi matahari terbenam.Bukannya Adit ingin mengajakku untuk Moon-Gazing ?Tahu apa yang membuatku begitu terpana ? Adit keluar hanya menggunakan Kaos putih polos berlogo dan celana jeans biru ketat,rambutnya tersisir sangat rapih,bau segar tercium dari tubuhnya,dan satu lagi..dia tidak berkacamata.Penampilan yang sangat jauh dari bayangan Adit yang ku kenal.

Aku yang terlihat gelagapan,berusaha mengalihkan pandangan dan bersikap cuek.

“ Sorry ya Len,buat kamu nunggu agak Lama “ Sapa Adit.

“ Ya , DIt,ga pa pa kok “  jawabku sekenanya dengan jantung yang agak berdegup kencang.

Tak lama kemudian,keluarlah seorang Pria paruh baya berumur,dengan pakaian yang tidak kalah necisnya,Bercelana Hijau Ludru jatuh dan berkemeja garis-garis vertical hijau muda.tersisir sangat rapih dan ….Wajahnya yang ternyata sangat mirip dengan Adit.Ternyata ketampanannya menurun dari laki-laki ini.

Sambil tersenyum ia menyapaku duluan.

“ Selamat datang , Lena, ya ,kalau saya tidak salah  “

“ Iya pah,namanya Lena “ sahut Adit menanggapi pertanyaan yang diutarakan padaku.

Aku tersenyum simpul dan berdiri,menjulurkan salam dekat melalui tanganku.

“ Lena,kenalkan, ini Papahku  “

Aku yang memang sedang tidak nyaman ini langsung kembali duduk begitu di persilahkan oleh papahnya Adit.

“ Jadi bagaimana kabarmu,Dit,Sudah hampir setengah bulan,papah gak dengar cerita dari kamu tentang Lena,tiba-tiba saja malah mengajaknya kesini ? “ Papah Adit membuka percakapan.

Tunggu-tunggu,setengah bulan tidak mendengar cerita tentangku ? Jadi selama ini ?Adit ?

“ Ya Pah,memang,sudah hampir setengah bulan ini Adit gak cerita ke Papah tentang Lena.Tapi bukan berarti Adit lupa dengan wanita ini “ Terang Adit.

“ Ayo katakan,apa yang ingin kamu sampaikan pada papah kali ini,Dit ,sampai kau harus mengajaknya kesini “

Sungguh,perbincangan antara anak dan ayahnya ini membuatku semakin tidak nyaman.

“ Lena,Mohon maaf jika membuatmu sedikit kaget dan bingung.Tapi aku sungguh tidak tahu bagaimana ingin mengajakmu datang ke rumahku ini.Karena jika aku langsung katakan kepadamu,kau pasti akan berfikir yang macam-macam.Nyantai ya,Len.. “ terang Adit.

“ Ya,tidak apa-apa Dit,aku senang kok bisa bertemu dengan ayahmu “ jawabku dengan tak yakin.

“ Baiklah , Pah..Adit ingin menyampaikan satu hal yang sudah lama ingin Adit sampaikan pada Papah.Hal yang sudah sejak lama Adit fikirkan dan Adit rencanakan dalam hidup Adit.Papah tahu sendiri,selama ini Adit tidak pernah minta yang macam-madam dari Papah.Semenjak Mamah tidak ada,Adit selalu berusaha untuk membiayai kehidupan Adit sendiri,menjalani aktifitas sesuai dengan hati nurani Adit,Dan melanjutkan cita-cita Mamah untuk menjadi dokter “

Tunggu,Jadi Mamahnya Adit juga tidak ada ?

“ Dan sekarang,sebelum semuanya terjadi kembali seperti dua tahun silam,sebelum segala penyesalan muncul kembali,Adit ingin  melaksanakan janji Adit yang sudah papah ketahui dari dulu.Menemukan seorang perempuan yang sesuai dengan hati nurani Adit untuk Adit jadikan pendamping hidup Adit “

Kalimat yang terakhir tadi membuatku tak berani menatap ke atas,Aku semakin menundukkan pandangan.

“ Dan wanita itu,adalah dia,Pah..temanku ini,Namanya Magdalena Avianty,semester 7 di Psikologi,yang Adit temui beberapa bulan lalu “ Papar Adit panjang lebar.

Seperti kesambar petir di siang bolong,aku mendengar semua penjelasan Adit yang sangat tiba-tiba itu.Aku langsung terperangah , terperanjat tidak percaya.Apa ? Apa aku tidak salah dengar   ? Aku  ? Adit ? Pendamping Hidup ? Janji ? Dua tahun silam ?

Semua masih sangat terasa samar di telingaku dan …membuatku tak bisa bernafas sesaat.Apa rahasia dibalik semua ini, purnama ? Mengapa alur hidupku selalu tak berhenti dari kejutan-kejutan ? Aku yang mendengar paparan Adit hanya bisa tertunduk makin dalam.Jujur sejujur-jujjurnya,aku tak bisa berkata apa-apa.Ini sama sekali di luar dugaanku.

“ Dit,Papah percaya sepenuhnya padamu.Kali ini papah tak akan memaksa kamu.Kamu sudah besar dan dewasa.Sudah mengerti pilihan hidup yang akan kamu jalani.Papah sangat bersyukur,jika ternyata kamu sudah menemukan wanita pilihan yang sesuai dengan hati nurani kamu.Lakukan apa yang menurutmu baik,Papah akan dukung “ Jawab Papah Adit dengan sangat tenang dan Tegas.

Oh purnama…Mau di taruh dimana mukaku kali ini ?

Aku yang tak pernah merasa di berikan kesempatan untuk mengutarakan perasaanku lebih memilih untuk mengikuti alur percakapan jelang matahari terbenam ini.Terperangkaplah aku pada alur kehidupan yang sama sekali tak pernah ku bayangkan.Sungguh,aku tak kuasa untuk menolak semua ini.Tak ingin dan tak kuasa.Dari percakapan yang hampir memakan satu jam waktu ini ,baru ku ketahui,ternyata,Adit juga anak tunggal sama seperti ku.Papahnya adalah seorang Komisaris Utama di sebuah perusahan Advertising Swasta ternama,pengusaha Furniture ternama juga di Bilangan Propinsi.Mamahnya yang telah wafat,ternyata juga seorang Dokter,Spesialis Bedah Orthopedi di Rumah sakit ibu kota.Papahnyapun memilih jalan hidup yang sama dengan mamahku,tidak menikah setelah pasangan hidupnya meninggal.

Entah keturunan dari mana,gaya hidup ayah dan anaknya ini sangat jauh dari kehidupan bergaya gelamour,seperti lazimnya kehidupan seorang pengusaha kaya raya.Bersahaja dan beretika.Itulah yang ku tangkap dari segala kisah yang baru terkuak sore itu,di rumah lelaki yang diam-diam mencintaiku dan diam-diampun aku mencintainya.CInta,ternyata semudah ini ku dapatkan.

Percakapan-percakapan selanjutnya tidak banyak yang membuat aku tertarik.Hanya perbincangan-perbincangan ringan seputar aktifitas kampus,keluarga,cita-cita dan masa depan.Sambil mengintip jam di pergelangan tanganku,Aku mencoba untuk tetap tenang dan mengikuti perbincangan ini.19.30 WIB.Adit yang melihat sedikit gelagat ketidaknyamananku mulai faham.Ia meminta izin untuk mengakhiri pembicaraan kepada papahnya dan mengantarkanku pulang.

Setelah berpamitan dengan papahnya,aku yang berhamburan ke luar pintu,tak kuasa langsung berlari menuju lataran parkir dimana Beat-ku di taruh.Adit yang melihat tingkah anehku itu langsung mengejarku.

“ Len,Lena,Lena..Tunggu dulu,Aku bisa jelaskan semua “ panggil Adit.

Aku tak peduli pada panggilannya dan tetap berlari.

“ Lena,ku Mohon,biarkan  aku memberikan penjelasan atas semua ini.Aku tahu,kau pasti memiliki sejuta tanda Tanya.aku tahu,kamu pasti tidak terima di perlakukan seperti ini.Tapi Please,Len,beri aku waktu untuk menjelaskan “ Teriak Adit sambil mengejar di belakangku.

Aku tak tahu,mengapa saat itu aku berlari dan membelakanginya.Tak bisa ku bayangkan bahwa aku sangat-sangatlah bahagia,tapi sekaligus tidak menyangka atas semua karunia ini.Maka dari itu,aku menghindari dari tatapannya,aku menangis bahagia dalam temaram Purnama yang saat itu menemani larianku.

Pada jarak 1 meter dari Beat-ku,aku menghentikan langkah tergesaku.Ku dengar langkah Adit yang mendekat.

“ Len,Lena..Ku Mohon,jangan pergi dulu “ suaranya makin keras terdengar di belakangku.Jarak setengah meter.

“ Len,Lena..” Belum sempat ia meneruskan kata-katanya,aku membalikkan tubuhku dan langsung menghambur ke arahnya.Ku lepaskan tas yang menyandang disampingku,ku Peluk ia,Ku dekap ia sampai tubuhku tak berjarak,ku peluk ia sampai nafasnya yang terengah karena mengejarku,terhenti.

Adit yang tak menyangka reaksi ku seperti itu langsung mengerti.Ia balas memelukku erat,dan memegang kepalaku,mendekap kepalaku dan menaruhnya di dadanya.

“ Maafkan aku,Lena,Maafkan Aku..Tak sepatutnya aku berbuat ini padamu,maafkan aku..” llirih sekali ia katakan itu padaku.

Aku yang saat itu sedang menangis bahagia,hanya bisa terdiam dalam dekapannya.dan berkata.

“ TIdak perlu kau jelaskan semuanya,Dit,tak perlu kau Tanya bagaimana perasaanku.Tak perlu kau Tanya persetujuanmu.Aku Milikmu,Dit,Hati dan jiwa,Aku milikmu “ hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutku.

Pelukannya yang erat,terasa mengendur.Kemudian,dengan tatapan lembut,ia menjauhkan wajahku dari pandangannya.Sambil memegang bahuku.ia berkata.

“ Lena,Kau tahu,aku tak akan melepaskanmu.Aku bersumpah,tidak akan pernah melepaskan cinta ini,kepada wanita lain.Dan kupastikan,pada saatnya nanti,Aku akan menjadi milikmu seutuhnya “

Aku yang mendengar itu ,tak tahu lagi harus berkata apa.Sudahlah,kejutan ini sudah lebih dari cukup.Aku sudah tak kuasa mendengar apapun lagi darinya.Sudah sangat jelas dan sangat jelas.

Aku yang sudah hendak berpamitan padanya,tidak jadi pergi ,karena saat itu Adit memegang tanganku dan mencegahku.Lha,ada apa lagi ini ? Adit kemudian menarik tanganku kembali ke dalam pekarangan rumahnya yang luas itu.Kali ini , ia mengajakku ke samping kiri rumahnya,Dan …Waw…Ku temukan lagi kejaiban dunia disana.

Halaman samping rumahnya yang agak tertutup itu ternyata memiliki sebuah tempat mungil yang sangat indah.Sebuah taman berbentuk segi empat,dua buah ayunan ukuran sendiri menghadap sebuah kolam berair terjun,dan pepohonan yang sedikit rimbun.Lampu-lampu taman hias ku lihat menancap di sekeliling taman.Indah sekali tempat ini.

“ Lena,duduklah di ayunan itu.Ada yang ingin ku sampaikan lagi sebelum kau bernjak pulang “

Aku menurut saja.maka ku duduk di salah satu ayunan itu.tapi tidak dengan Adit.Ia kemudian  justru mengayunkan ayunan yang ku naiki dari belakang,dengan sangat pelan.

“ Dit,apa yang ingin kau katakan lagi setelah semua kejutan dan keindahan ini ?  “ tanyaku memulai pembicaraan.

“ Lena,kamu lupa ya,pertanyaan kamu kemarin malam,tentang seseorang yang menghilang dari duniaku ? “

“ Lha,bukannya mamah-mu ? “ tanyaku balik.

Sambil tetap mendorong ayunanku,ia kemudian melanjutkan perkataannya.

“ Lena,Aku pernah merasakan dicintai oleh dua orang yang menurutku sangat berarti dalam hidupku.Yang satu wanita yang telah melahirkanku,dan satu lagi ,wanita yang sangat mencintaiku tapi tidak pernah mendapatkan cintaku “ Adit memulai kisahnya.aku mulai tertegun.

“ Dua tahun yang lalu,semua tragedy itu juga terjadi padaku.Dua orang wanita itu terenggut nyawanya dalam sebuah kecelakaan ketika menuju ibu kota.Kau tahu,Mamahku adalah seorang dokter Spesialis bedah.Saat itu,mamah yang sedang bersama wanita itu ,sedang menuju Rumah sakit untuk melakukan tindakan mendadak dari Rumah sakit tempatnya ia bekerja “

“ Wanita itu,jika kau ingin mendengarnya,namanya adalah Magdalena,sama seperti namamu.Bedanya,hanya Magdalena dan dipanggil Magda bukan Lena.Ia adalah seorang wanita yang sangat-sangat cerdas.Ia bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit swasta tempat dimana mamahku bekerja.Ia sangat cerdas,tapi sangat beretika dan bersahaja,terampil dan tahu nurani mengobati,Dan bukan semabarang perawat.Semua pesonanya  itulah yang membuat Mamahku tertarik untuk, mengambilnya sebagai menantunya.Wajahnya,menurutku sangat biasa,tidak terlalu cantik untuk ukuran wanita “ Lanjut dia.

“ Lalu aku di pertemukan oleh Mamah dengannya.Sungguh,jika ingin jujur,tak pernah ada sedikitpun rasa cinta dan chemistry yang menghampiri.Bahkan mungkin,sedikit risih.Aku yang waktu itu masih berada disemester 4 di kuliahku,merasa tidak selevel dengannya,karena belakangan ku ketahui,ia hanyalah seorang wanita yang beruntung mendapatkan sebuah beasiswa dari Diknas namun berasal dari keluarga yang tidak berpunya.Aku tidak tahu mengapa Mamah bisa tertarik dengannya dan ingin menjadikannya sebagai pendamping hidupku “

“ Aku yang saat itu pun bergaya hidup glamour dan bergensi tinggi,sangat tidak teratrik dengannya.kau tahu kan,ya,anak muda,bagaimanalah “

Ayunanku masih berada pada dorongan pelannya.Aku kembali menyimak.

“ Saat itu,aku tidak tahu,kalau ternyata wanita yang sangat-sangat tidak ku inginkan kehadirannya itu,ternyata sangat mencintai aku.Mamah tahu,aku tidak suka dengannya,tapi tetap saja dalam beberapa kesempatan,ia mengajak wanita itu ke rumah ini.Aku tidak tahu jika Ternyata Mamah menyimpan sebuah rahasia, yang juga baru ku ketahui,setelah aku kehilangan mereka berdua “ paparnya lagi.

“ Ya, Malam itu,malam setelah kecelakaan atas tronton yang menyerempet mobil mamahku,dan merenggut kedua wanita itu,barulah aku tahu.Ternyata,wanita itu,Magdalena,perawat itu,adalah seorang perawat yang akan memberikan tulang belakangnya pada pasien mamah yang akan ia operasi malam itu.Bayangkan,memberikan tulang belakang untuk ditransplasi ke tubuh orang lain yang bukan siapa-siapanya ! Yang ia tahu,wanita yang akan di operasi oleh mamah adalah seorang wanita pejabat Pemerintah setempat,yang jika tidak diselamatkan tulang belakangnya dan mengalami lumpuh,akan berakibat fatal.Bayangkan, Lena,bayangkan ! “ jelas Adit panjang lebar.

“ Wanita itu,wanita yang sangat mencintaiku tapi tak pernah mendapatkan cintaku itu,adalah seorang wanita yang sangat agung pesonanya dan mempunyai hati yang sangat dalam “ Aku yang mendengar penjelasan Adit itu,masih belum bisa mengatakan apa-apa.

“ semenjak kejadian itu,aku bertekad,akan merubah gaya hidupku,melanjutkan cita-cita mamah menjadi dokter,dan akan menemukan seorang wanita yang sesuai dengan hati nuraniku.sampai satu ketika,mungkin kau tidak menyadarinya,bahwa pertemuan pertama kita di Caffe Alexa itu adalah ku sengaja.Aku sudah memperhatikan kehadiranmu jauh sebelum kau melihatku di Caffe itu.Namamu mengejutkanku saat ku lihat di daftar pengunjung Caffe.Sejak saat itu,aku terus memperhatikanmu,dan mencari tahu seluk beluk tentangmu.Termasuk kebiasaan anehmu yang suka nongkrongin Purnama setiap bulan itu.Karena entah kamu percaya atau nggak,kejadian tragedy dua tahun silam itu,persis seperti kejadian yang menimpa ayahmu,Terjadi persis saat purnama menjelang “

“ dan sekarang,disinilah kita “

Tak percaya aku pada semua paparannya,aku kemudian menggumam.

“ Ya,Kita seperti dipertemukan dengan sengaja oleh purnama “ kataku sambil menatap ke arah langit.

TIba-tiba Ayunan Adit kembali mendorongku,tapi Kali ini lebih kencang.

“ Dit,kok tambah kenceng sih,kan ceritanya udah selesai ? “ teriakku.

“ Aku ingin kau melihat apa yang ada di Kolam itu.dengan seksama,Oke,dan beritahu aku apa yang kau lihat “ suara Adit lantang ku dengar.

Aku menurut apa yang Adit suruh,dan ku dongakkan kepala pada kolam yang tenang itu pada dorongan Adit yang makin kencang dan tinggi.

Adit kemudian bertanya, “ Apa yang kau lihat,Len ? “

Dengan pasti ku jawab “ Bulan Purnamaa… “

“ Tidak-tidak,bukan itu.Apa yang kau lihat ,Len ? “

Lho,bukannya bulan yah ? Maka pada ayunan selanjutnya aku melihat lagi dengan seksama..Oh…iya iya..

Maka ku jawab juga ..

“ Bayangan bulan purnama,Diit.. “ jawabku..

Adit kemudian mengentikan dorongannya pada ayunanku dengan perlahan..

“ Ya Len,benar,bayangan purnama “

Adit kemudian melangkah ke hadapanku dan menatap wajahku dengan tajam.

“ Lena,aku ingin kamu ingat,bahwa bayangan purnama ini,akan sama dengan purnama yang ada diatas,selama ia tidak pernah pergi,maka bayangan ini akan selalu ada,Tapi jika purnama itu pergi dan tidak muncul,maka begitu juga dengan bayangan ini,Tidak akan pernah ada yang namanya purnama “

Setengah tidak mengerti,aku bertanya padanya.

“ Apa yang ingin kau sampaikan padaku ,Dit ,berkatalah lebih jelas.aku tidak mengerti “ Adit yang tadinya berdiri kemudian berjongkok setengah lutut di hadapanku.

“ Lena,satu minggu lagi aku harus pergi ke luar kota,mungkin sekitar  7 bulan kedepan.Ada Proyek LSM yang harus aku kerjakan disana.Tidak bisa tidak,harus aku yang kesana,untuk langsung terjun ke lapangan.Peluangnya pun sangat besar untuk penelitian ujian Co-assku yang terakhir.Dan saat itu,setelah itu semua berkakhir,aku akan menjemputmu,dan aku akan menjadi milikmu..” papar Adit.

“ Dit,aku gak salah denger kan ? “ setengah tak percaya aku menutup kembali mulutku.

“ Nggak ,Len..kamu sedang tidak salah dengar.itu sebabnya mengapa aku selalu tak ingin mengatakan perasaanku yang sebenarnya,itu sebabnya aku ingin kau melihatku apa adanya,tanpa melihat siapa keluargaku,itu sebabnya aku selalu menghindar dan menemuimu dengan kejutan-kejutan,itu sebabnya aku mengajakmu malam ini dan mempertemukan mu dengan papah,itu sebabnya aku selalu ingin menjaga perasaanmu,itu sebabnya aku tak pernah ingin memberikan harapan yang melangit padamu.Tapi kau harus tahu satu hal,Len..Aku ingin memilikimu.Hanya itu “

Kembali bertubi-tubi,kejutan yang sama sekali tak pernah terbayangkan akan terjadi dalam hidupku.Perasaan ku semakin tak bisa ku jelaskan.

Saat itu,tak kuasa,aku menatap wajahnya yang tertimpa temaram purnama,dan mengatakan satu hal padanya.

“ Aditya Purnama,sebelum aku lupa dengan namamu,dan sebelum kau lupa pada namaku,Selagi Purnama diatas menyaksikan,dan selama bayangannya tak pernah pergi,Aku akan menunggu kedatanganmu kembali “ Ucapku sambil membelai wajahnya.

“ Kau tahu ,Dit,aku memujamu bak purnama diatas,bukan status keluargamu yang ku hiraukan.Aku pun mempunyai tekad yang sama saat nyawa Ayah terenggut tiga tahun silam.Pertemuan denganmu,tak pernah terbayangkan ,tapi tak pernah juga ku sesalkan.Aku berterima kasih,karena di pertemukan oleh purnama yang sesungguhnya.Kembalilah pada waktunya,dan akan kau temukan Magdalena yang kau impikan.Aku janji “ Jawabku padanya penuh dengan keyakinan.

“ Terima kasih,Lena…Terima kasih..” Ia  kemudian mendekapku erat.Air mata tak terasa kembali membanjiri mata ku malam itu.

 

Malam itu,purnama terasa sangat sempurna bagiku.Tiga tahun penantian,bukan waktu yang singkat ku rasa.Dan kali ini,Ia anugerahkan aku bertubi-tubi karunia yang sama sekali tidak ku duga.

Purnama,aku telah menemukan purnama yang sesungguhnya.Akankah ia menjadi jawabanku selama ini ?

Bersambung.

Depok, 20-10-2010

 

 

********

 

Oktober 2010,Lima hari jelang Purnama.

“ Lima hari lagi purnama menjelang,Sebelum bias cahayanya pergi,ku pastikan,mata kita akan beradu kembali,mata kita akan saling menatap,mengalirkan energy kerinduan yang sudah lama tak berbendung ini dan mengalirkan beribu Watt Voltase cinta yang tak pernah bisa dipadamkan.Tunggu aku,Lena,aku akan datang “

Pesan singkat itu masuk ke dalam hp-ku,lima menit yang lalu.Ku baca berulang-ulang hingga 10 menit kemudian.Berulang-ulang,kata perkata,baris perbaris,hingga huruf perhuruf.Tidak,aku tidak sedang mimpi.Sms ini benar adanya.Dari Aditya Purnama.

Ohh…purnama..aku bahkan nyaris lupa bahwa kau akan datang lima hari lagi.Pesan singkat yang telah membuatku setengah melayang itu,juga telah membuatku tidak sadar,bahwa aku sedang berada di Kantor Administrasi Keuangan Kampus , sedang melengkapi persiapan wisudaku.Dengan satu tas dan Map berisi berkas-berkas persayaratan dan beberapa kwitansi penting lainnya,aku melangkah bergegas meninggalkan kantor Administrasi kampus itu,langsung menancap Beat kesayanganku dan menuju ke rumah.Tak sabar rasanya ingin segera memberitahu mamah tentang kabar gembira ini.

30 menit kemudian saat aku sampai depan rumah,dengan setengah tergesa aku parikiran Beat-ku dengan asal,dan langsung membuka pintu rumah tanpa mengucapkan salam.

“ Mamahh…Mamahhh….Mamaah…” panggilku setengah teriak.TIdak ada respon.maka kuulangi  lagi panggilanku.

“ Mamah..Mamah,,,Mamah dimana sii…Lena punya kabar gembira ni..” Aku yang belum juga mendapatkan respon dari Mamah langsung mencopot helmku ,dan langsung menyusuri seisi rumah.Ku datangi ruang keluarga,Ku buka kamar tidur Mamah,Ku hampiri dapur,halaman belakang,jemuran baju,tak juga ku dapatkan Mamah.Tumben,Mamah nggak ada ,biasanya gak kemana-mana.Kemana ya mamah ?

Rasa hasrat yang membuncah untuk segera memberi tahu mamah tentang kabar gembira ini sedikit menyurut.Ah,Mamah..kemana dirimu ? Aku yang menyerah dan tidak menemukan keberadaanya segera menuju kamarku di lantai dua.Ku letakkan tas di atas meja belajarku dan Ku buka pakaian luarku,menuju kamar mandi.Setelah rapih dengan kostum rumah ku sendiri,aku langsung turun menuju kamar mamah dan memencet sebuah Nomor di saluran telpon rumah.

Kabar gembia ini tak ada artinya jika hanya aku yang tahu,kabar gembira ini tidak berarti jika mamah tidak tahu.Seperti ada yang hampa.Satu menit setelah menunggu nada dering masuk,akhirnya ku dengar juga suara wanita yang paling ku cintai itu.

“ Ya Ampun,Mamah.. mamah kemana aja si,Lena pulang ke rumah kok gak ada orang.Mamah dimana ? “ cerocosku sebelum Mamah mengucapkan salam.

“ Lena,Lena,Kamu ini,belum salam belum apa,udah nyerocos aja.Kaya udah gak ketemu Mamah sekialn lama “ jawab mamah di seberang.

“ Hehe,habis Mamah bikin Lena khawatir si,gak ada di rumah,tumben banget “

“ Mamah keluar sebentar ,sayang..Memangnya gak boleh yah..”

“ yah,boleh aja sih mah,emangnya Mamah dimana,Mau Lena jemput ? Lena mau cerita nih sama Mamah,Lena punya kabar gembira,kabar yang bikin Mamah pasti  sangat senang “ jelasku.

“ wah,ada kabar apa,sayang ? Mamah sedang di rumah Bule-mu,tadi tiba-tiba terfikir ingin main kesini.Sudah lama tidak berkunjung,tadinya mau ngajak kamu ke sini juga,tapi mamah fikir,kamu sedang sibuk ngurusin persiapan Wisuda itu,jadi Mamah sendiri aja deh kesini “ jelas Mamah di seberang panjang lebar.

“ Yah,,ceritanya gak enak kalau di sampein lewat telpon,Mah,Kalau gitu Lena jemput Mamah deh  disana,sekalian Maen juga sama Bule.Oke ya Mah,Lena jemput Mamah se-jam lagi.Mamah jangan pulang dulu yah..”

“ Ya sayang,Mamah tunggu,hati-hati kamu bawa motornya,jangan lupa bawa jaket juga buat Mamah yah,biar Mamah gak kedinginan di bonceng sama kamu ntar “

“ Hehe,oke deh mah,,dah Mamah…tunggu Lena Yah.. “ tutupku di pembicaraan Via telpon itu dengan Mamah.

Ku lirik Jam dinding di ruang kamar Mamah,17.05.Jika aku tidak segera pergi ke rumah Bule,Mamah akan kemalaman,karena jarak rumah ku dengan rumah Bule jika lancar dengan sepeda motor,bisa sampai satu jam.Itu pun kalau lancar,kalau macet,bisa menambah durasi perjalanan.Belum lagi kalau di rumah bulenya harus ngobrol dulu.Wah,aku harus bergegas.

Seperti biasa,jeans biru pekat,Kaos pendek berwarna biru muda,jaket dongker berbahan katun dan berkupluk,kaos kaki putih,Nokia di kantong jaket,dan sepatu Kets.Ku sambar juga jaket kulit untuk Mamah.Sebelum pergi,Entah kenapa,aku yang biasanya tidak begiu perduli dengan penampilan,ku sempatkan diriku untuk berkaca di depan cermin ruang keluarga.

Helm yang masih ku tenteng di tangan kananku,ku turunkan sejenak.Ternyata wajah ini semakin tirus,meski kecantikan mamah tidak banyak terwarisi padaku,tapi rambut lebat hitam dan lurus  yang ku dapatkan dari almarhumah Papah,kini menghiasi kepalaku,yang biasanya ku potong pendek ini.Tak terasa,7 bulan,sedikit banyak merubah penampilanku.Rambutku kini panjang melebihi bahu.Masih dengan potongan rambut shaggy berponi,ku kuncir rambutku kebelakang dan ku jepit poniku dengan jepitan hitam kecil.

Aditya,tak terasa gumamanku keluar dengan sendirinya.

Aditya,wajah ini lah yang akan kau temui lima hari lagi di Purnama,Mungkin tak secantik bidadari kahyangan,tapi percayalah , ada raut kebahagiaan ,yang tak kan kau temukan di wajah wanita manapun selain wajahku saat engkau esok akan bertemu dengan ku.Akan kau temukan wajah yang berbinar cinta dan kerinduan,saat mata kita bertemu nanti.Akan kau temukan wajah yang sudah lama memendam kerinduan pada purnama yang sesungguhnya,wajah yang memancarakn cinta dari ketulusan dan kedalman hati.Wajah inilah Adit,yang akan terus mendampingimu,sejak purnama Esok hari hingga kau tak bisa lagi menikmati purnama dalam hidupmu.Aku janji,Dit,,Wajah ini yang akan kau temui Esok hari.Aku janji,aku akan menunggumu.

Setelah berdiam sejenak,ku longakkan pandangan ku pada kaca jendela.Langit agak gelap.Tapi sepertinya bukan gelap biasa jelang matahari terbenam.beberapa hari lagi purnama akan menjelang,harusnya langit agak cerah,tidak berawan,dan bulan sabit ada di atas.Tapi pada sore itu,ketika ku dongakkan kepala dari jendela,Langit tidak tampak seperti biasanya.Sepertinya akan turun hujan.Ah ya,aku baru ingat,Ini kan sudah bulan Oktober,sudah hampir di penghujung tahun,musim hujan akan menjelang.Tak apalah,semoga tidak turun hujan deras saat aku pulang nanti bersama Mamah.

Ku kunci rumah dari luar dan ku taruh di Pot bunga depan pagar.Ku starter Beat-ku dan langsung ku tancapkan gas,memecah jalanan perumahan menuju daerah kawasan tempat dimana Bule-ku tinggal.Dingin menusuk sedikit ku rasa.

Dalam perjalanan menjelang matahari terbenam itu,aku kembali membayangkan memori setahun sebelumnya,saat aku bertemu pertama kali dengan Adit di Caffe Alexa.Lucu,andai aku tahu dia duluan yang merhatiin aku,nggak akan capek-capek aku meneliti penampilannya dari atas sampai bawah saat itu.Aku tersenyum sendiri jika mengingatnya.memori – memori lain kemudian melintas,Halte kampus saat pertama kali mengajak kenalan,pertemuan setengah tak sengaja saat Moon-Gazing di belakang kampus,kejutan-kejutan pertemuan saat aku sedang bersama teman-temanku,sikapnya yang rada usil dan suka jahil,baju kemejanya yang lebih sering di buka daripada di masukkin ke dalam,rambutnya yang lebih sering terlihat urakan,dan Ohh..wajahnya yang tersenyum saat kacamata tak bertengger di matanya…

Ah,,Memori itu masih tersimpan dengan sangat rapih di hati ini,hingga memori yang tak kan pernah terlupakan itu,7 bulan silam di Pekarangan belakang rumahnya.Janji untuk kembali bertemu pada bayangan Purnama..

Waktu berlalu cukup lama,aku yang dalam tempo belakangan ini disibukkan dengan skripsi dan sidang hingga akhirnya lolos sampai wisuda ini,ternyata masih bisa bertahan dengan cintaku.Ajaib,karena aku tak pernah jatuh cinta sebelumnya.Beruntunglah engkau ,Aditya,aku tak melupakanmu walau se-inchipun.Aku tak melupakanmu,walau ku rasa,ada beberapa lelaki yang sudah terlihat gelagatnya ingin mendekatiku.Tapi semua berhasil ku tepis,hingga detik ini.Karena Cintaku padamu,tak berkurang sedikitpun.

Ah,,Aku sangat merindukanmu,Adit…Tak sabar rasanya aku ingin segera bertemu denganmu..

20 Menit berlalu sudah,Beat-ku sudah memecah malam,karena matahari jelas sudah terbenam.Pada perempatan lampu Merah di depan,saat motorku berhenti,Aku melepaskan pegangan tanganku pada Stang beat-Ku,Ku hela nafas sejenak sambil menunggu lampu hijau menyala.Ku tatap motor-motor yang berada disampingku.

Tak terasa,ada setitik tetes air yang membasahi kulit tanganku.Tak percaya,ku buka telapak tanganku,ku tadahkan pada langit.Hah,gerimis datang.Mungkin sebentar lagi hujan deras akan turun.Buru-buru ku kencangkan jaket dongker yang ku gunakan.Ah,perjalanan masih setengahnya lagi.Aku tidak boleh lengah dengan lamunanku.Maka begitu lampu hijau menyala,ku lansgung tancapkan gas tanpa memedulikan kendaraan-kendaraan lainnya.

Detik itu ,yang ada dalam bayanganku,hanya ingin segera bertemu dengan Mamah,dan mengabarkan kabar gembira aku dengan Adit.Aku tak sadar,gerimis yang menemaniku saat itu,ternyata sedang tidak bersahabat denganku.Jalan ByePass,Setelah Fly Over ini,belokan kanan di perempatan dan setelah itu kira-kira 3 KM aku akan sampai di rumah Bule.Maka begitu turun di Fly Over ku tancapkan gasku lebih kencang dan mengarahkan stangku ke Kanan.Tapi gerimis yang menghalangi Helmku tidak memberikan aku kesempatan untuk melihat,Saat Kontainer Hyundai yang berada di arah berlawanan melintas di depanku..

HIngga,aku merasakan Beat-ku menabrak sesuatu dan tiba-tiba peganganku terlepas.Aku merasa tubuhku seperti melayang dan mendarat pada benturan keras di kepalaku.Tubuhku seperti remuk,Terpelanting jauh dan tidak kuasa untuk begerak.Yang  ku rasakan saat itu adalah,helmku sudah tak tak berada di kepalaku,Seperti ada godam raksasa yang menghantam.Ku pegang kepalaku dengan setengah tangan yang tertindih motor,pandanganku tiba-tiba saja mengabur dan aku tidak bisa melihat apa-apa lagi selain gelap dan pekat dan rasa sakit yang menyengat…

 

*******

 

Setengah tak sadarkan diri,aku membuka mata yang sangat terasa berat ini.Seperti ada beban beribu ton yang jatuh di kepalaku.Sangat berat ku rasakan.Bahkan untuk sekedar menolehkan kepalaku untuk mendengar suara yang Sayup-sayup terdengar dari sebelahku..suara seorang perempuan, memanggil sebuah nama..

“ Lena,lena,..”

Siapa yang dia panggil ? aku kah ?siapa lena ?

“ Lena,lena,akhirnya kau sadar juga..”

Di mana aku ? Siapa Lena ?Siapa aku ?Mengapa aku bisa berada disini ?

“ Lena,kami semua mencemaskanmu ..”

“ Syukurlah,akhirnya kami semua bisa kembali melihatmu sadar ..”

Aku  tak mengerti,mengapa banyak orang berada di sekelilingku.Aku pun tak peduli pada Seorang perempuan yang tadi memanggil-manggilku dengan nama Lena,terus menciumi keningku dan mengusap tanganku.Sungguh,aku tak mengerti.Aku seperti berada dalam alam mimpi.Tapi kemudian,Mata dan kepala yang masih sangat terasa berat,selang oksigen yang menempel di hidungku,dan sebuah gantungan infus yang mengalir pada selang jarum di tanganku..menandai satu hal,sepertinya aku sedang tidak mimpi,Ini alam nyata,aku berada di sebuah rumah sakit.Tergeletak tak berdaya.

“ Lena..Lena..Lena.. “

Hanya itu nama yang ku dengar,sebelum akhirnya mata ini kembali terpejam..

 

*******

Oktober 2010,Purnama

 

Aku kembali membuka mata yang entah lama sudah terpejam ini,dan saat aku membuka mata,kembali ku temukan sosok wanita yang jika aku tidak salah ingat,memanggil-manggil sebuah nama.Lena,Lena.Ia tersenyum padaku,dan kembali memelukku,menghujani keningku dengan ciuman bertubi-tubi.Aku menyerah karena tubuhku belum banyak bisa ku gerakkan.

Aku tidak mengerti ini semua.Aku tidak tahu mengapa aku bisa berada di sini.Ada yang aneh,aku hidup,tapi seperti sedang tidak sadar.Mataku sedikit berkunang-kunang saat kembali ku dengar suara wanita itu berbisik di telingaku.

“ Lena,Lena sayang,ini Mamah Nak..Ini Mamah..,maafkan Mamah sayang,Maafkan Mamah,tak seharusnya kamu berada disini,semua ini salah Mamah,Nak…Maafkan Mamah yah sayang… “ Dengan berlinanangan air mata wanita itu terus berbicara disampingku,sambil memegangi dengan erat tangan kananku dan menciumi keningku.Wanita itu kemudian melanjutkan bisikannya,

“ Nak,kamu sudah tak sadarkan diri ,koma selama 5 hari di ICU ini.Mamah sangat bersyukur,do’a Mamah di kabulkan,Kamu selamat Nak,Kamu bisa sadar..Mamah tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.Syukurlah,Syukurlah Nak…” wanita itu masih sesenggukan saat mengatakan itu padaku.

“ Mamah tidak ingin kau pergi,Mamah tidak ingin di tinggalkan lagi,hanya kau satu-satunya harta Mamah yang paling berharga,Lena sayang..”

Aku masih tidak bisa mengatakan apa-apa.Aku mengerti sekarang,jadi wanita ini adalah ibuku ?Siapa nama yang tadi ia panggil ? Lena ? Jadi namaku Lena ? Dan aku sudah tak sadarkan diri selama 5 hari ? bagaimana mungkin itu bisa terjadi ? Lalu di mana ayahku ?Dan  Mengapa aku tidak bisa mengingat apa-apa ?

Belum juga hilang pertanyaanku,kemudian seorang laki-laki  berkacamata dan berkemja rapih,menghampiri tempat tidurku,dimana aku sedang berbaring tak berdaya.Ku berusaha bangun untuk setengah duduk.Wanita yang ku ketahui sebagai Mamahku membantu aku untuk bangun.

Laki-laki itu kemudian menggantikan posisi Mamah yang tadi berada di sampingku.Apa ini ayahku ? Jika Ia,mengapa tampak lebih muda  dan tidak setua wanita tadi ?

“ Lena,Syukurlah kamu sudah sadar.Aku bahagia dapat melihatmu kembali “ Sapa lelaki itu kepadaku.

Aku  yang masih belum bisa berkata apa-apa dan tidak mengerti,kemudian menolehkan dan melirikkan pandanganku pada Mamahku seraya memasang tanda Tanya.Seakan mengerti ketidakfahamanku,laki-laki itu segera menggenggam tangan kananku yang masih tertancap jarum infus dan kemudian berkata.

“ Lena,kenalkan,Namaku Aditya Purnama.Aku temanmu,yang janji akan datang pada malam ini dan menemuimu “ Jelasnya sambil tersenyum.Tak ada guratan kesedihan yang terpancar seperti yang terdapat di wajah Mamah.Aku tidak tahu siapa lelaki ini, yang bahkan sudah janji akan menemuiku malam ini.Aku sungguh-sungguh tidak tahu dan tidak ingat semua ini.Ku lirik sekali lagi mamah yang tak jauh dari kasurku.Aku tak mengerti,mengapa tiba-tiba ia pergi meninggalkan ku dengan menutup mulutnya,dan tersedu sedan,menahan tangisan yang dari tadi tidak juga berhenti.Mamah keluar kamar.

Di kamar itu,kini hanya ada aku dan laki-laki itu.Siapa namanya ? Aditya Purnama.Sungguh malang,aku tak bisa mengingatnya sama sekali.pada kebisuan,ia kemudian duduk di sampingku dan mengatakan,

“ Lena,aku harap kau tidak keberatan jika aku menemanimu malam ini “ pinta dia.Aku yang tak mengerti apa-apa hanya dapat mengangguk perlahan,mengiyakan.Entah kenapa,ada perasaan yang berbeda dengan kehadirannya di sampingku.Perasaan nyaman,tenang,dan…Ah,,,aku seperti pernah merasakan ini semua,tapi dimana ? Kapan ? Aku  tidak dapat mengingatnya sama sekali.

Aku yang sedang tergelatak lemah,kemudian menoleh ke samping kiri,melihat jendela berkaca yang berhordeng putih dan tipis itu.Iya,sudah Malam,Tapi tunggu..Apa  itu ? Aku seperti meilhat bayangan cahaya putih . Bulat.Apakah itu bulan ? Bulan Purnama kah ? serasa ada magnet yang menghipnotisku,aku tak berhenti memandangnya dari jendela kamarku.Sudahlah,aku tak peduli apa yang terjadi padaku.Tapi bulan itu tetap indah sekali.Tak sadar aku terus menatapnya tak berkedip..Ada sejumput kedamaian tiba-tiba menyeruak dalam hatiku.Rasa apa ini ? Tak lama kemudian,mataku terpejam kembali.

 

Purnama itu retak,

Retak dan tetap saja bisu,

Tak lagi sesempurna dulu.

Dan tak ada yang tahu.

 

 

Tamat.

Depok, 21-10-2010